YURISTGAMEINIGAMEID101

Rintis Jalan Baru, Warga Babat Hutan Mangrove


Oelamasi, Independen-news.com - Bermaksud hendak membuat jalan pintas menuju pantai, kuat dugaan warga Desa Pariti, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang - NTT babat hutan mangrove sepajang hampir 200 meter.

Padahal, jalan menuju pantai pariti sudah ada sejak dulu dan hingga kini masih digunakan oleh nelayan setempat pergi atau pulang dari laut. 

Untuk tujuan merintis jalan baru menuju pantai, dua ratus meter hutan mangrove di wilayah Dusun I Desa Pariti dibabat habis oleh beberapa orang nelayan. Praktis, aksi pengrusakan hutan mangrove itupun mendapat protes keras warga lainnya yang berinisitaif melaporkan hal ini kepada pihak Polsek Sulamu.

Kanit Reskrim Polsek Sulamu Aipda Supratman, Bhabinkamtibmas Desa Pariti Bripka Sammy Mali bersama beberapa orang masyarakat desa itu langsung menuju lokasi hutan mangrove yang kuat dugaan dirusak oleh beberapa orang nelayan setempat.

Iskandar Huan, salah satu anggota tim pengawas laut dan pesisir, Rabu (04/09/2019) mengungkapkan, aksi babat hutan mangrove yang kuat dugaan oleh beberap orang nelayan itu dilakukan hari minggu tanggal 03 September 2019 lalu untuk membuat jalan pintas menuju pantai.

Sebagai tim pengawas laut dan pesisir pantai, dirinya bertugas menjaga dan mengawasi agar hutan mangrove tetap terjaga kelestariannya, bahkan jika ada pohon bakau yang mati maka tim itu wajib menanam kembali. 

"yang kami tau, ini hutan bakau dilindungi pemerintah sudah lama,"Ujarnya.

Ia mengatakan, sebagian masyarakat desa pariti menggantungkan hidupnya dari hasil laut, jika hutan mangrove rusak tentu akan berdampak langsung bagi masyarakat, hasil laut makin berkurang serta dapat menyebabkan terjadinya abrasi pantai.

Dampak dari kerusakan hutan mangrove katanya, sangat mengganggu berkembang biaknya semua biota laut seperti udang, ikan dan kepiting bakau yang menjadi harapan masyarakat pariti.

Tokoh masyarakat Desa Pariti, Yermias Pellokila mengatakan bahwa dampak kerusakan hutan mangrove, pertama : akan terjadi abrasi pantai sehingga sawah milik masyarakat dekat hutan mangrove akan tercemar laut. Dampak kedua yairu akan menggangu berkembangnya biota laut seperti ikan, udan dan kepiting bakau.

Menurutnya, hutan mangrove di Desa Pariti sudah ada sejak dulu dan dilindungi oleh pemerintah. Pohon - pohon bakau yang dirusak itu, jika dilihat dari diameter batang pohonnya, diperkirakan sudah hidup puluhan tahun. 

"pemerintah sudah mengeluarkan banyak uang untuk melindungi dan mengembangkan ini hutan mangrove, tapi masyarakat dengan sewenang-wenang merusak hutan itu,"Ungkapnya.

Ia mengatakan, sesuai keterangan yang diperolehnya dari beberapa orang yang kuat dugaan merusak hutan mangrove itu atas perintah Kepala Desa Pariti melalui Ketua TPK Desa agar melakukan survei jalan.

Sementara itu, Kepala Desa Pariti Melkior Y. Radja yang dikonfirmasi via sambungan telepon genggamnya mengatakan, aksi pengrusakan hutan mangrove itu atas inisiatif sendiri dari beberapa orang nelayan dan bukan perintah darinya.

Sebagai pemimpin di Desa Pariti, dirinya tidak pernah memberikan perintah atau menyuruh masyarakat melakukan aksi pengrusakan di hutan mangrove yang dilindungi itu.

Dirinya mengatakan bahwa, beberapa orang nelayan datang padanya meminta untuk membuka jalan menuju pantai, namun ia tidak pernah memberi ijin untuk merusak hutan mangrove. 

Menurutnya, pemerintah desa pariti tahun 2019 tidak ada program untuk membuka jalan baru yang dibiayai dari dana desa. (Sully).

Hutan Mangrove yang kuat dugaan dirusak oleh beberapa orang nelayan Desa Pariti.




About Author

Berita Terbaru