YURISTGAMEINIGAMEID101

Desa Kuanheum Kembangkan Sentra Tenun Ikat

Oelamasi, Independen-news.com - Desa Kuanheum di Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang - NTT kembangkan sentra tenun ikat sebagai ikon desa.

Selain sebagai ikon desa, tenun ikat menjadi salah satu upaya meningkatkan taraf ekonomi masyarakat khususnya kaum perempuan di Desa Kuanheum dengan intervensi Dana Desa tahun 2019.

Kepala Desa Kuanheum, Edmundus Finit mengaku sangat optimis, tenun ikat yang dihasilkan dari Desanya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan hasil dari daerah lainnya di NTT.

Lebih lanjut, Kepala Desa Kuanheum, Esmundus Finit, Kamis (01/08/2019) di ruang kerjanya mengatakan, langkah awal yang di tempuh pemerintah desa saat ini yaitu memberikan pelatihan bagi 20 orang kaum perempuan yang berasal dari 4 dusun.

Pelatihan yang dilakukan sejak 29 Juli - 03 Agustus 2019 katanya, pemerintah desa bekerja sama dengan CV. Ina Ndao sebagai narasumber teknik.

Pelatihan Tenun ikat dipilih sebagai salah satu kegiatan prioritas desa 2019 bertujuan selain ingin terus mengembangkan budaya tenun yang sudah diwarisakan oleh leluhur. Tujuan lain bahwa tenun ikat memiliki peluang untuk peningkatan ekonomi masyarakat, apalagi sejalan dengan seruan Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat untuk menggunakan tenun ikat setiap hari selasa dan jumat.

Menurut Kepala Desa, langkah berikutnya pasca pelatihan adalah 20 orang peserta dapat menjadi instruktur sebaya di dusun masing - masing. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan mampu di tularkan kepada kaum perempuan di dusunnya masing - masing.

Dengan demikian ujarnya, akan tercipta peluang usaha tenun ikat di setiap keluarga yang pada gilirannya akan mampu meningkatkan taraf hidup keluarga. Selain menjadi narasumber teknik, CV. Ina Ndao pun akan membeli semua hasil produksi kain tenun ikat dari Desa Kuanheum.

Benediktus Woge, Sekretaris Desa Kuanheum menambahkan, sebelum adanya pelatihan ini, tenunan yang dihasilkan tidak memiliki kualitas baik, sebab selain mudah kuntur juga coraknya tidaklah menarik. Bahkan, suami - suami di Desa Kuanheum malahan enggan memakai hasil tenunan isteri karena alasan mudah luntur.

Perempuan di Desa memiliki ketrampilan tenun tapi kualitasnya tidaklah mampu bersaing. Maka dengan alasan ini pemeeintah Desa Kuanheum mengambil langkah untuk memberikan pelatihan kepada 20 orang dengan tujuan hasil tenunan perempuan di desa mampu bersaing secara kualitas dengan daerah lainnya.

Ia mengatakan, hasil yang diharapkan tentunya para perempuan di Desa Kuanheum mampu menghasilkan tenun ikat berkualitas tinggi dengan motif dan warna yang beragam, dengan demikian nilai jual kain tenun ikat pun akan meningkat sehingga mampu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Sementara itu, Ani Maranci Mamun, salah seorang peserta pelatihan tenun ikat berujar, bahwa kehadiran CV. Ina Ndao sebagai narasumber pada pelatihan ini ternyata membuka pemahaman perempuan desa. Perempuan di desa yang selama ini menenun dengan peralatan yang rumit, pemahaman itu berhasil diubah.

Bukan cuma itu, teknik pencelupan, pewarnaan dan membuat motif kain tenun yang selama di menjadi kebiasaan di desa pun di ubah. Jika selama ini perempuan menggunakan cara - cara lazim misalnya pencelupan dan pewarnaan dengan lumpur dicampur bahan alam lainnya, sehingga hasil tenunan mudah luntur dan tidak berkualitas.

Namun, dengan pelatihan, perempuan penenun di desa kemudian diperkenalkan dengan cara - cara baru yang lebih sederhana dengan hasil tenun yang berlualitas dan tidak luntur, dengan demikian harga jual meningkat.

Sebagai salah satu peserta, dirinya bersama peserta lain bertekad membentuk kelompok - kelompok di masing - masing dusun. (Sully).

About Author

Berita Terbaru