YURISTGAMEINIGAMEID101

"Onani Politik Vs Politik Praktis"

sebuah catatan kaki aktivis Salemba

Oleh : Yoyarib Mau, S.Th, S.I.P


Judul terkesan sarkastis, tapi itulah gambaran untuk melukiskan sebuah realita.

Seusai aktif sebagai aktivis mahasiswa, kebanyakan aktivis akan selalu tampil dengan gelora idealisme yang pada prinsip mereka, itu yang paling ideal dan tepat.

Prinsip yang subyektif ini akan berjalan dan berhadapan dengan kenyataan yang tidak berbanding lurus.

Politik Onani

Sebagai aktivis akan selalu hadir dalam setiap diskusi dan seminar ala kaum yang ngecer, diskusi selalu berdimensi ganda, di suatu sisi diskusi dilakukan karena pesanan politik dari elit, dengan tujuan mempropaganda isu atau wacana yang hendak dibahas dalam parlement.

Sehingga kegiatan diskusi ini dilakukan agar mendapatkan peliputan media, serta memberikan legalitas pemberitaan bagi media agar tidak distigma sebagai media pesanan atau sponsor.

Model Diskusi atau seminar ngecer seperti ini, kalau di Jakarta biasanya dilakukan di seputaran cafe-cafe Cikini, sambil makan siang.

Dan sekaligus makan siang, bagi aktivis hal ini sebuah kesempatan baik karena lambung bisa terisi. Dan biasanya aktivis yang purna berorganisasi yang banyak berperan baik sebagai pembicara maupun pesertanya, biasanya ada bahasa prokemnya "tau sama taulah", teman seangkatan di masing-masing organ kampus atau organ ektra kampus.

Kenapa harus sesama mereka, karena mereka yang bisa saling pahami apa lakon yang sedang mereka kerjakan.

Kegiatan seperti ini tidak salah namun hanya pada sebatas "Onani" tidak menyelesaikan akar persoalan, hanya menyulut agar ada kobaran api, agar menjadi alasan bagi elit politik untuk menangkap wacana. 

Kelompok aktivis yang melakukan onani adalah selalu menjadi kaki tangan dari para elit untuk menyerang yang berkuas.

Pengalaman ini merupakan jenjang yang hampir dialami atau dijalani oleh para aktivis, namun mereka yang nyaman dan terus melakoni ini sebaai profesi mendapatkan sebutan profesi "tukang olah".

Politik Praktis

Mereka yang sadar bahwa persoalan politik tak cukup diselesaikan dengan onani, tapi butuh peran praktis. Maka, taktiknya adalah terlibat  dalam partai politik, melakukan aktivis secara langsung bersama masyarakat melalui pendampingan advokasi, melakukan kegiatan atau usaha sebagai lapangan pekerjaan bagi orang lain, terlibat dan hidup bersama masyarakat kemudian mengetahui apa yang menjadi persoalan dari masyarakat.

Pilihan Praktis ini kemudian bisa menjadi jembatan "dari-oleh-dan untuk" sebagaimana yang digaungkan dalam demokrasi.

Hari ini politik kita akan menjadi sehat dan harmonis tidak cukup kalau sekedar onani semata, politik kita hari ini butuh tempat dan wadah yang nyaman untuk berkreasi dan menunjukan diri bahwa tidak hanya sekedar aktivis tukang olah, tetapi butuh aktivia yang berperan nyata dalam masyarakat.

About Author

Berita Terbaru