YURISTGAMEINIGAMEID101

Lahan Sawah Kering, Petani Raknamo Protes BWS NT II

Oelamasi, Independen-news.com - Areal sawah seluas 36 hektar milik Kelompok Tani (Poktan) Nunsono saat ini telah kering. Akibatnya petani kemudian melayangkan protes terhadap Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II).

Poktan Nunsono pemilik areal lahan sawah seluas 36 hektar, pada musim tanam 2019 tidak dapat mengerjakan sawahnya lantaran tidak ada suplai air irigasi.

Sumber air dari sungai yang biasanya di gunakan oleh petani raknamo sudah dibendung mengisi air di bendungan raknamo. 

Dominggus Bira, Ketua Poktan Nunsono, Desa Raknamo Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang - NTT, Kamis (07/03/2019) via sambungan telp membenarkan hal itu.

Menurutnya, sebelum pembangunan bendungan raknamo tahun 2015, dalam rapat bersama petani di peroleh kesepakatan bahwa areal sawah nunsono akan tetap di aliri air untuk irigasi.

Kesepakatan dalam rapat bersama petani itu memang di laksanakan tahun 2015 hingga tahun 2018. Sementara tahun 2019 ternyata air sama sekali tidak dialirkan ke sawah nunsono hingga petani mengalami kesulitan air.

Akibatnya dapat di pastikan seluruh areal sawah kering walaupun sekitar 2 hektar sudah selesai di tanam, sisanya masih dalam tahap persiapan lahan dan persemaian benih.

Ia menuturkan, persoalan kekeringan yang di alami petani rupanya sampai ke telinga Jerry Manafe Wakil Bupati Kupang terpilih yang kemudian memfasilitasi pertemuan petani raknamo dengan BWS NT II tanggal 04 Maret 2019. Hasil pertemuan di sepakati bahwa BWS NT II akan mengalirkan air ke lahan sawah namun sudah terlambat.

Kepala Desa Raknamo, Augusto Fernandes, SPT yang di konfirmasi via sambungan telepon, Kamis (07/03/2019) mengatakan, seluruh tanaman padi sudah mati kekringan, tidak ada lagi harapan kecuali di kerjakan lagi dari awal. 

Petani di areal sawah nunsono kata dia,  sebelum pembangunan bendungan raknamo, air irigasi bagi petani bersumber dari sungai mes'ana. Namun sungai itu kini sudah terbendung sebagai sumber air mengisi bendungan raknamo.

Menurutnya, sejak tahun 2015 - 2018 petani tidak kekurangan air sebab selalu di suplai oleh pengelola bendungan raknamo, tapi kemudian tahun 2019 sama sekali tidak ada suplai.

Petani kewalahan mengolah sawah karena tidak ada air, dua hektar sudah selesai tanam dengan manfaatkan air hujan tapi sudah keringa, sisa lahan sama sekali tidak di olah.

"petani memang benar alami kesulitan air, kondisi lahan sudah kering, tanah pecah dan semua padi sudah mati tidak ada harapan lagi,"Ungkapnya.

Saat ini kondisi sawah sudah kering, tanah sudah pecah, petani ada yang sudah tanam, ada juga sudah semaikan benih namun semua sudah mati.

Hasil kesepakatan dengan BWS NT II bahwa satu hari setelah mediasi langsung di salurkan air ke sawah nunsono, kondisi saat ini tidak mungkin melanjutkan pekerjaan sawah kecuali di mulai dari awal atau di tanami dengan tanaman jenis lain.

Untuk di ketahui bahwa salah satu butir kesepakatan rapat bersama antara BWS NT II, Pemerintah Kabupaten Kupang dan Poktan Nunsono menyebutkan bahwa  jadwal pemberian pelayanan air oleh BWS NT II dilaksanakan minggu I Maret 2019 dengan kapasitas suplai terukur untuk petani nunsono seluas 36 hektar untuk 1 musim tanam (Maret - Juni) 2019. (Sully).

Kondisi Kekeringan di areal sawah Poktan Nunsono Desa Raknamo, Kecamatan Amabi Oefeto Kabupaten Kupang - NTT.

About Author

Berita Terbaru