YURISTGAMEINIGAMEID101

Modal 15 Ekor Ayam Betina, Filpina Foni Jadi Sarjana

Oelamasi, Independen-news.com - Berasal dari keluarga miskin tidak mengalangi niat menggapai cita-cita menjadi sarjana, tekad kuat menjadi sarjana dibarengi dengan semangat pantang menyerah mampu mengalahkan berbagai macam kesulitan.

Kesulitan ekonomi kemudian menjadi pelecut semangat bekerja keras, terus untuk berusaha menggapai harapan dengan upaya serta kreatifitas sendiri. Putus asa dan menyerah pada takdir bukan alasan, memilih untuk bangkit dengan dorongan dari dalam diri menjadi senjata utama membongkar takdir itu sendiri.

Filpina Foni adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu  membuktikan bahwa berasal dari keluarga miskin dengan kesulitan ekonomi tidak lantas mengubur cita-cita. Perjuanganya  sekuat tenaga dengan bantuan motivasi dan doa dari suami dan anak - anak menjadikanya kini sebagai seorang sarjana dengan modal hanya 15 ekor ayam betina.

Kepada Independen-news.com, Minggu (17/02/2019) via sambungan telepon, Filpina Foni menceritakan kisahnya.

Menurut anak dari Nikolas Foni (alm) dan Maria Foni (almh), pasca lulus dari SMAN I Amarasi tahun 2005, dirinya terpaksa memendam hasrat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Alasan utama karena orang tua tidak mampu membiayai dirinya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Merantau ke Jakarta dengan maksud merubah takdir menjadi jalan yang harus di tempuh. Sekian lama merantau ke ibu kota, bekerja dengan maksud merubah takdirnya, namun semua usahanya sia-sia. Ia terpaksa harus kembali ke kampung halaman di Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang - NTT.

Isteri dari Demas Neno ini menuturkan, setelah kembali dari Jakarta, ia langsung dilamar oleh suaminya kemudian menikah. Tapi cita-cita yang terpatri dalam dada sejak kecil untuk menjadi sarjana tidak luntur. Selain ingin menjadi sarjana, cita-cita menjadi seorang guru membawanya menjadi seorang tenaga guru honor di SMPN 2 Amarasi Timur, guru mata pelajaran Seni Budaya.

Oleh karena niat ingin menjadi sarjana, ibu dua orang anak ini kemudian mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi Indonesia (STTI) di Kupang tahun 2013.

Saat mendaftar di STTI Kupang, ia dan suami harus menjual satu ekor babi seharga Rp. 600.000 untuk biaya pendaftaran kuliah. Setelah dirinya di terima menjadi mahasiswa, lalu bagaimana dengan biaya kuliah, biaya kost dan lainya?.

Dengan modal 15 ekor ayam betina yang ia pelihara sejak mendaftar menjadi mahasiswa, juga yang menjadi sumber utama membayar semua biaya kuliahnya. Ia tidak mengandalkan penghasilan suaminya sebagai nelayan dengan pemasukan tidak jelas.
"saya hanya andalkan jual ayam peliharaan untuk bayar uang kuliah, bayar kost, biaya transport, beli buku dan lainya,"Tuturnya.

Kesulitan yang di alaminya belum selesai. Saat mengajukan proposal skripsi ia pun masih kesulitan biaya.  Bantuan beasiswa yang diperoleh dari Pemerintah Kota Kupang digunakanya membiayai kebutuhan hingga selesai membuat skripsinya.

Rintangan terkahir, saat daftar wisuda dirinya kembali diterpa kesulitan biaya. Akibatnya, ia harus "menepi" selama enam bulam sembari menunggu pengajuan beasiswa yang secara diam-diam di ajukan oleh salah satu dosen. Atas bantuan seorang dosenya, ia kemudian memperoleh beasiswa dari Pemerintah Provinsi NTT untuk membayar biaya wisudanya di STTI Kupang.

Tahun 2017, menjadi catatan sejarah bagi dirinya dan keluarga, sebab pada tahun 2017 itu seluruh perjuangan menggapi asa menjadi sarjana terjawab sudah, ia termasuk salah satu dari sekian banyak mahasiswa STTI Kupang yang di kukuhkan dalam prosesi wisuda, ia pun resmi menyandang gelar sarjana. (Sully).

About Author

Berita Terbaru