YURISTGAMEINIGAMEID101

"Agar Tirza Tak Lagi Tertunduk Minder"

Satu Refleksi Hari HAM Internasional Ke- 70

Oleh : RES Fobia, SH., MIDS; Alumni Fakultas Hukum UNS Surakarta dan _Graduate School of Policy Studies - Kwansei Gakuin University - Japan_, Wakil Dekan Fakultas Hukum UKSW, Mitra Kerja Indeks Demokrasi Indonesia, dan Advokat.

SD Negeri Kokfeu di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan - NTT didirikan pada tanggal 23 Juli 2013, tepat pada Hari Anak Nasional. Tetapi sangat disayangkan, gedung sekolah itu sangat tidak layak, jauh dari syarat menjadi tempat belajar untuk Anak-anak yang bersekolah, menempuh pendidikan dasar di Desa Kokfeu. Di sekolah inilah Tirza Oematan bersekolah bersama ratusan Anak didik lainnya, dengan hanya dibimbing dua Guru, Ibu Masni dan Ibu Lassa. Mungkin masih ada sekolah lain yang serupa keadaannya.

Kita semua patut merenung, mengoreksi diri dan membuat  fundamental restoration (perbaikan mendasar). Apalagi, pada tanggal ini, 10 Desember 2018, dunia memperingati Hari HAM Internasional yang ke- 70.

Hak atas pendidikan adalah bagian fundamental dan integral dalam HAM. Anak-anak tidak boleh diabaikan dalam perkembangan kehidupan mereka.

Pasal 3 Ayat (1) Konvensi Hak Anak PBB, yang sudah diratifikasi Indonesia dengan Kaputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 tertanggal 25 Agustus 1990, menegaskan, "Dalam semua tindakan yang menyangkut Anak, baik yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau swasta, lembaga pengadilan, lembaga pemerintah atau badan legislatif, kepentingan terbaik Anak harus dijadikan pertimbangan utama".

Dalam Ilmu Hukum, best interest of the Child (kepentingan terbaik Anak) ini adalah general principle of law (prinsip umum hukum). Karena itu,  pokok ini menjadi sumber hukum, baik dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan, termasuk pembuatan peraturan daerah, maupun dalam rangka pembimbingan perubahan sosial melalui teladan praktis.

Pasal 26 Ayat (2) Deklarasi Umum HAM juga mengingatkan umat manusia bahwa, "Pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta untuk mempertebal penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia dan kebebasan-kebebasan dasar. Pendidikan harus menggerakkan saling pengertian, toleransi dan persahabatan di antara semua bangsa, kelompok ras maupun agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam memelihara perdamaian".

Bagaimana mungkin Anak didik memiliki pandangan luas dan menghormati HAM, serta akan berperilaku saling mengerti, toleran, bersahabat, dan berdamai kalau tempat belajar mereka tidak layak? Ini masalah serius yang harus segera diperbaiki. Kita tidak perlu saling menyalahkan. Akan tetapi, kita harus bekerjasama secara konstruktif dan sungguh-sungguh.

Pemerintah yang empunya kewenangan dan masyarakat terdidik yang empunya respek atau rasa hormat kepada Anak-anak dan masa depan bangsa ini dan umat manusia, harus punya respon atau tanggapan serius dan tanggungjawab bersama secara optimal.

Hak Anak harus dihormati, dilindungi dan dipenuhi. Dalam hal ini, Anak-anak membutuhkan tindakan aktif dan bertanggungjawab dari kita semua.

Menghormati berarti sebagai pemerintah dan masyarakat kita tak bisa lepas dari kewajiban moral dan hukum untuk tidak mengganggu kehidupan Anak-anak. Melindungi berarti sebagai pemerintah dan masyarakat, kita diikat oleh kewajiban moral dan hukum untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman kepada Anak-anak, dari gangguan pihak lain atau keadaan buruk tertentu. Memenuhi berarti sebagai pemerintah dan masyarakat, kita memikul kewajiban moral dan hukum untuk memberikan secara penuh kebutuhan Anak-anak.

Huruf c bagian menimbang dari Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juga mengarahkan bahwa, "Anak sebagai tunas, potensi dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perilaku tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia".

Membiarkan rusak gedung sekolah, tempat belajar Anak didik, adalah perilaku tidak manusiawi dan melanggar HAM.

Sekali lagi, kerjasama pemerintah dan masyarakat terdidik perlu dibangun. Langkah strategis ini harus ditanamkan, ditumbuhkan, dikembangkan dan dipelihara. Komunikasi politik dan kebijakan publik yang berdimensi resolusi atau pemecahan masalah harus jadi pemandu.

Adalah baik kita mengingat kembali peringatan Gabriella Mistral, Penyair Cile yang terkenal itu. Anak-anak di seluruh planet ini punya nama yang sama. Kata Mistral, "Untuk Anak-anak, kita tidak bisa bilang besok; namanya adalah Hari Ini".

Karena itu, Tirza, Siswa Kelas IV SD Negeri Kokfeu, tak boleh tertunduk minder lagi. Nama sejati Tirza sebagai Anak-anak adalah Hari Ini.

Tetap Semangat dan Belajar serius Tirza; Terima Kasih Ibu Masni dan Ibu Lassa atas pelayanan dan pengabdian yang dikerjakan. Tuhan pasti memperhitungkannya.

Selamat Hari HAM Internasional yang ke- 70.

Semoga kita makin rendah hati, serius dan bertanggungjawab dalam bekerjasama untuk peradaban kemanusiaan yang lebih maju.

About Author

Berita Terbaru