YURISTGAMEINIGAMEID101

Ibarat Seorang Tukang Kayu, Iman Manusia Tergantung Diri Sendiri

Oelamasi, Independen-news.com - Sebuah refleksi hidup jemaat diakhir tahun 2018, ibarat seorang tukang kayu yang membangun rumahnya, kemegahan dan kemewahan rumah tergantung pada diri sendiri. Tentang bagaimana seorang dengan dedikasi dan tanggung jawab mampu membangun fondasi imannya sendiri.

Demikian intisari khotbah Pdt. Adriana Malelak-Tanggela, S.Th, Ketua Majelis Jemaat Kalvary Puluthie pada kebaktian kunci tahun 2018, Senin (31/12/2018) di Oebelo Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang - NTT.

Mengawali khotbah, Pdt. Adriana Malelak-Tanggela, S.Th mengajak jemaat untuk sejenak melakukan refleksi diri tetang apa yang dilakukan jemaat dalam tahun 2018. Tahun 2018 memiliki ceritanya sendiri, cerita dan persoalan hidup silih berganti hingga membuat jemaat kadang berpikir untuk akhiri hidup. Oleh karena itu, disaat menjelang akhir tahun 2018 jemaat diajak bersyukur masih diberikan kesempatan melewati tahun 2018. Tahun 2018 miliki makna sama dengan tahun sebelum, namun apakah jemaat sudah lakukan sesuatu yang berarti di tahun 2018 yang akan berlalu, renungkan dan evaluasi apa yang di lakukan tahun 2018 serta membuat rencana di tahun 2019.

Dalam khotbahnya, ia memberi sebuah ilustrasi tentang kisah seorang tukang kayu yang handal, berbagai produk telah dihasilkan melalui tangan sang tukang kayu yang penuh dedikasi dan tanggung jawab. Suatu ketika sang tukang kayu ingin mengakhiri masa pengabdiannya, namun majikan sang tukang kayu meminta agar menyelesaikan sebuah rumah mewah sebelum pensiun.

Sebuah rumah dihasilkan oleh sang tukang kayu, namun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Tukang kayu terkenal itu tidak melakukan pekerjaan terakhirnya dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi serta tanggung jawab. Pada akhirnya, sang tukang kayu pun pensiun dan oleh majikannya diberikan hadiah sejumlah uang dan sebuah kunci rumah yang dibuat sang tukang kayu. Sebuah rumah yang jauh dari harapan, rumah yang dibuat asal jadi, rumah yang tidak kokoh dan sang tukang kayu pun hanya mampu melihat rumah yang dibuatnya dengan penuh penyesalan.

Mengutip bacaan alkitab dari I Raja-raja 3 : 5-12, Pdt. Adriana Malelak-Tanggela, S.Th menguraikan apa makna yang dapat dipelajari jemaat dari ilustrasi sang tukang kayu sebagai pegangan jemaat memasuki tahun 2019.

Menurutnya, kehidupan jemaat tidak berbeda dengan cerita sang tukang kayu, jemaat adalah pembuat rumah untuk kehidupan sendiri. Sejauh mana jemaat mampu membangun fondasi iman masing-masing dengan kokoh sehingga kemudian hasil pekerjaan tidak menimbulkan penyesalan.

Memasuki tahun 2019, kehidupan jemaat lebih ditekankan soal membagun hubungan yang baik dengan sesama agar terlihat indah, kokoh serta menyenangkan bukan sebaliknya membangun hubungan antar  sesama dengan tidak setulus hati. Memelihara hubungan harmonis dengan sesama, hubungan dalam keluarga dan dalam rumah tangga jemaat dengan indah dan tulus hati sehingga tidak ada penyesalan dikahir cerita.

Kehidupan jemaat mesti dilandasi dengan kasih, cinta dan pelayanan dengan tulus hati tidak seperti tukang kayu yang megayunkan palunya dengan tidak tulus hati. Suami - isteri dalam hidup keluarga dengan peran masing-masing mestinya dilakukan dengan penuh cinta dan ketulusan, dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing di dunia kerja dengan dedikasi, loyalitas dan tanggung jawab penuh.

Ia menguraikan, jemaat harusnya belajar dari apa yang dilakukan oleh raja Salomo. Saat Salomo menerima tugas menjadi raja atas Israel, Salomo berdoa meminta hikmat dari Tuhan untuk dapat menimbang perkara, untuk dapat menyelesaikan perkara dan mampu membedakan mana kebaikan dan mana kejahatan sebab Salomo merasa tidak mampu menerima pekerjaan yang sangat berat. Semoga apa yang diminta Salomo, juga menjadi permintaan jemaat memasuki tahun 2019. (Sully).
Suasana Kebaktian Kunci Tahun 2018 Jemaat Kalvary Puluthie Senin 31/12/2018.

About Author

Berita Terbaru