YURISTGAMEINIGAMEID101

Masyarakat Desa Bonmuti Keluhkan Kelakuan Oknum ASN Pemkab Kupang yang dinilai Bejat.

Oelamasi, Independen-news.com - Masyarakat Desa Bonmuti Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur keluhkan kelakuan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemkab Kupang yang dinilai bejat oleh masyarakat. Kelakuan oknum ASN yang dinilai bejat ini sudah berlangsung sekian lama, masyarakat pun telah berkali - kali melayangkan surat kepada atasan langsung sang oknum ASN namun hingga saat ini tidak pernah di gubris dan kuat dugaan oknum ASN ini dilindungi pula oleh Camat Amfoang Tengah.

Abia Nompetus, Salah satu Warga Desa Bonmuti via sambungan telepon Jumat (14/09/2018) mengatakan oknum ASN itu bernama Salatial B. Naisunis dan perbuatannya sangat meresahkan masyarakat Desa Bonmuti. Abia Nompetus kemudian merincikan sejumlah perbuatan oknum ASN mantan Sekretaris Desa Bonmuti yang telah dilantik Bupati Kupang sebagai Penjabat Kepala Desa Bonmuti.

Menurut Nompetus, perbuatan sang oknum ASN Saltial B. Naisunis tahun 2016 di duga membuat duplikat stempel kepala desa kemudian mengambil Rastra untuk 258 Kepala Keluarga. Padahal, seluruh 258 KK itu telah menyetor uang sebesar Rp. 180.000 untuk 90 Kilogram beras Rastra atau 3 karung per KK. Namun, setelah beras Rastra tiba di Desa Bonmuti, oknum ASN Saltial B. Naisunis tidak membagikan kepada 258 KK penerima Rastra, hanya sebagian kecil saja masyarakat yang dibagikan jatah beras Rastra oleh Salatial B. Naisunis. Bukan hanya itu, masing-masing KK diwajibkan membayar lagi uang penggati karung beras dengan jumlah Rp. 1000 per karung per KK atau sekitar Rp. 774.000 diperoleh Salatial B. Naisunis dari biaya penggati karung.

Nompetus kemudian merincikan lagi sejumlah perbuatan Salstial B. Naisunis. Pada tahun 2012, Desa Bonmuti menerima bantuan beras rawan pangan sejumlah 30 kilogram per KK, namun hingga saat ini masyarakat tidak pernah menikmati bantuan itu. Salatial B. Naisunis diketahui tidak membawa beras rawan pangan ke Desa Bonmuti tapi ditampung dirumah seorang pengusaha di  Kecamatan Amfoang Selatan. Jika butuh uang oknun ASN itu menjual beras rawan pangan atau jika butuh untuk makan maka diambilnya sesuai kebutuhan pribadi.

Perbuatan oknum ASN Saltial B. Naisunis masih berlanjut dan kali ini terhadap 6 orang Kepala Keluarga penerima bantuan sosial rehabilitasi rumah layak huni tahun 2012. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kupang berupa semen, seng dan kayu pun tidak dibagikan kepada penerima. 6 orang KK penerima bantuan diwajibkan oleh Salatial B. Naisunis untuk mengganti biaya transport sebesar Rp. 2.000.000 per KK, namun lantaran 6 orang penerima ini tidak sanggup mengganti uang transport sebesar itu maka bahan bangunan tidak diambil oleh masyarakat, kuat dugaan bantuan bahan bangunan itu sudah digunakan secara pribadi oleh oknum ASN lingkup Pemkab Kupang tersebut.

Atas perbuatan oknum ASN itu, masyarakat Desa Bonmuti pun telah melayangkan surat protes ke pihak pemerintah Kabupaten Kupang termasuk surat protes masyarakat ketika oknum ASN yang di nilai bejat oleh masyarakat itu akan dilantik menjadi penjabat Kepala Desa Bonmuti. Surat demi surat oleh masyarakat tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah, Camat Amfoang Tengah sebagai perwakilan pemerintah daerah pun terkesan melindungi sang oknum ASN dan buktinya Camat Amfoang Tengah tetap melantik Salatial B. Naisunis sebagai Penjabat Kepala Desa Bonmuti walaupun ada penolakan oleh masyarakat.

Ternyata kelakuan oknum ASN bukan hanya untuk persoalan kemasyarakatan saja, tapi persoal bantuan untuk gereja pun di sikatnya. Charles Neno mantan Bendahara Gereja GMIT Maranatha Bonmuti mengatakan pada tahun 2010 gereja mengajukan proposal pembangunan gedung gereja ke pemerintah Kabupaten Kupang dan melalui Biro Kesra proposal itu pun dijawab. Bantuan Pemkab Kupang berupa 100 sak semen, 50 staf besi, 50 lembar seng dan 50 lembar triplex, oleh oknum ASN Salatial B. Naisunis ternyata bantuan itu tidak diserahkan seluruhnya, yang diserahkan ke pihak gereja tercatat hanya semen 100 sak sementara lainnya tidak diserahkan bahkan gereja mesti dibebani dengan biaya transport senilai satu juta enam ratus ribu rupiah.

Kelakuan oknum ASN ini pun sempat diadukan ke pihak Kepolisian Sektor Amfoang Selatan tapi hingga saat ini tidak pernah diproses lebih lanjut. Cukup sampai disitu? Ternyata masih ada juga kelakukan lainnya yang sangat meresahkan masyarakat Desa Bonmuti. Terkait pengelolaan lembaga PAUD di Desa Bonmuti, oknum ASN itu selama ini menggunakan gedung gereja sebagai tempat belajar anak-anak PAUD dan karena merasa terdesak oleh Dinas Pendidikan dan Kebuadayaan maka Saltial B. Naisunis pun mendirikan sebuah gedung PAUD ternyata di atas tanah yang kuat dugaan dirampas dari seorang janda sementara bahan bangunannya sebagian menggunakan sisa bantuan sosial rehabilitasi rumah layak huni yang tidak diserahkan kepada 6 orang KK.

Orang tua murid lanjut Charles Neno sering di bebani biaya sebesar Rp. 100.000, 1 ekor ayam, 1 helai selimut dan 5 kilogram beras per anak saat akan melaksanakan wisuda. Semua murid pun di wajibkan membeli seragam PAUD yang disediakan oleh Salatial B. Naisunis seharga Rp. 100.000 per seragam. Pasahal menurutnya kualitas seragam yang diterima murid PAUD tidak sebanding dengan besarnya biaya untuk membeli. Akibatnya seluruh orang tua murid di lembaga PAUD pimpinan oknum ASN Salatial B. Naisunis memilih untuk mengelurkan anaknya dari sekolah.

"kami masyarakat dibodohi, ini sudah keterlaluan perbuatan ASN yang harusnya membangun masyarakat bukan merongrong demi keuntungan pribadi, kami sebagai keluarga merasa malu dengan perbuatan Salatial itu, surat protes dan penolakan sudah kami kirim ke Camat Amfoang Tengah tapi sampai hari ini camat tidak pernah turun ke desa untuk menyelesaikan pengaduan kami,"Ujar Neno. (yesy). 

Surat kepada Bulog NTT untuk penyaluran Rastra 2016 yang menggunakan duplikat stempel Kepala Desa yang dibuat oleh Salatial B. Naisunis.

About Author

Berita Terbaru